Senin, 15 Juni 2020

Pelita, Tata Doro Nisa Sebagai Pusat Perekonomian Warga Dan Kurangi Angka Pengangguran

Bima, InsidePos,-

Pemuda perduli wisata (Pelita) Desa Bajo Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima, sulap Doro Nisa sebagai aset wisata yang meningkatkan perekonimian warga juga mengurangi angka pengangguran pemuda.

Doro Nisa atau familiar di sebut Pulau Kambing itu merupakan aset dunia yang selama ini di pandang sebelah mata juga di abaikan. Beruntung Pelita memiliki inisiatif juga kreatifitas yang membangun untuk merubah wajahnya.

Kini, Doro Nisa tersebut tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang menenangkan mata, namun juga memperlihatkan keindahan lainnya. Sebut saja keindahan  sunrise, padang savana, panorama laut, dan ke indahan  tamannya yang di desain dengan unik.

Secara historis, Doro Nisa memiliki sejarah yang terpendam soal arkeologi  yang tidak di ketahui oleh banyak orang. Seperti makam keluarga kerajaan dan misteri pulaunya yang membuat kolonial Belanda & Jepang pada masa itu kalang kabut untuk memasuki wilayah daerah Bima.

Sejauh ini, beberapa kelompok pemuda yang sadar akan eksistensi potensi Doro Nisa, bergerak menatanya lebih eksotis. Dalam waktu satu bulan, Pelita lakukan pembersihan dan penataan. Mulai dari pembersihan sepanjang bibir pantai, desain taman rekreasi hingga membuka jalur/rute pendakian menuju padang Savana di puncak Doro Nisa.

"Ini merupakan hal pertama sebagai referensi gerakan pariwisata kerakyatan Doro Nisa, sebab hal ini merupakan urgensi yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Desa di akar rumpun," kata Hasbullah, Sekertaris Karang Taruna Bajo pada media InsidePos.Net selasa 16/5.

Pria yang akrab di sapa Bullah itu menjelaskan, Logika pariwisata tentu harus dibangun dengan argumentasi yang kuat sebagai penopang perekonomian kerakyataan dan menekan angka pengangguran. Juga menghilangkan resiko konflik sosial ditengah masyarakat.

"Kita bisa bayangkan, bagaimana efek domino dari ketiadaan tempat rekreasi atau hiburan disekitar kita, ditambah lagi dengan kehidupan yang serba dibawah tekanan sosial baik pekerjaan rumah maupun pekerjaan kantor yang menumpuk. Dari hal demikian, tentulah semua orang butuh penyegaran, refreshing, minimal melepas penat hingga berteriak," jelasnya.

Di tambahkanya, Doro Nisa juga hadir untuk menjawab kegelisahan juga kedilemaan. Spot-spot yang dapat memanjankan mata pengunjung tidak di ragukan lagi. Sebagai pemuda yang sadar, tentu gerakan ini adalah optimisme yang membangun wajah tanah kelahiran baik Desa maupun Daerah.  

"Apalagi saat siklus perekonomian masyarakat berputar, wisata Doro Nisa ini menghidupkan banyak sektor. Misalnya penjual asongan dan kopi, para penimba Bot yang setiap harinya menunggu penumpang untuk menyebrangi laut, pemuda yang menganggur tidak punya kerjaan, hingga lahan-lahan kosong yang dapat dijadikan tempat parkir adalah keuntungan dari adanya aset wisata yang tidak boleh diabiakan," ungkapnya.

Ia berharap, potensi ini harus terus di berikan kekuatan untuk menunjang ekonomi dan sosial. Sikap optimisme serta kapasitas untuk mengelola aset wisata harus di jadikan sebagai sumber kehidupan baru masyarakat Desa Bajo dan sekitarnya.

"Semuanya harus bergerak secara kolektif untuk mendorong wisata Doro Nisa sebagai icon baru Desa & Daerah, sebab ini adalah “Wisata Aku, Wisata Kamu, Dan Wisata Kita” tutupnya.

Sampai saat ini, wisata Doro Nisa itu masih terus di kembangkan.

#tot

Tidak ada komentar:
Write komentar