Minggu, 20 Juni 2021

Swastamita dan Hewan Langka Dibibir Pantai Oi Fanda-Bima Menjadi Idola Wisatawan

 

Sunset atau Swastamita di Oi Fanda Desa Nipa-Ambalawi

Bima, Inside,-

Sunset atau dikenal nama lain Swastamita menjadi keindahan tersendiri di Spot Pariwisata Oi Fanda Desa Nipa-Ambalawi. Proses keindahan alamiah itu, terjadi ketika matahari terbenam dan menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Warna merah di langit pada waktu Matahari terbenam dan terbit disebabkan oleh kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi. 


Sunset di Oi Fanda menjadi daya tarik kebanyakan pengunjung untuk mengabadikan keindahan alam. Tak jarang, para pengunjung diberbagai penjuru Desa dan Kota harus bersabar menunggu di lokasi spot pariwasata Oi Fanda hanya untuk mendapatkan gambar terbaik diponsel mereka. 


Itu dialami juga pada puluhan crew Kreator, Filmmaker dan YouTubers Bima-Dompu (KOFYB'20) dan Family Owner Uma Ilo Peta , Sabtu, 19/6 kemarin. Untuk mendapatkan spot foto, crew ini seakan beradu balap untuk sampai dengan cepat dilokasi pariwisata milik daerah Kabupaten Bima itu. 

Penampakan Oi Fanda dipagi hari dengan kejernihan air serta pasir putih yang halus


Benar saja, hanya menunggu tidak sampai 60 menit, para penggila jalan-jalan ini akhirnya dapat foto sunset indah dan menakjubkan dengan balutan pasir putih depan kamera ponsel.


Pendiri KOFYB'20, Ary Ipan (Sutradara Film La Hilla Putri Donggo) mengaku berhasil menangkap gambar sunset terbaik di Oi Fanda. Ia kali pertama mendapatkan kesempatan untuk mengabadikan keindahan alam. 


"Saya tidak yakin mendapatkan gambar bagus seperti ini. Tapi saya coba beberapa kali, akhirnya berhasil," ujarnya dengan senyum bangga 


Ary juga terkagum-kagum dengan panorama alam di Oi Fanda. Air laut yang jernih yang diwarnai dengan pasir putih dibibir pantai. Sangat memanjakan mata.


"Oi Fanda tempat yang indah. Saya sangat nyaman disini dengan suasan yang hijau oleh pohon kelapa yang berjejeran rapi," katanya

Wisatawan lokal dan luar daerah ikut melihat proses penetasan telur penyu


Tak kalah menariknya, Owner Uma Ilo Peta Mama Uni ikut mengesprikan kebahagiaan sekaligus kebanggaannya. Pengalaman pertama melihat langsung proses menetes bayi penyu di Oi Fanda.  Hewan itu langka.


"Ini istimewa sekali. Saya merasakan sensasi melihat penyu menetes dibibir pantai. Momentum yang tidak bisa dilupakan," pujinya


Mama Uni juga apresiasi terhadap teman-teman pemuda Pokmas, Karang Taruna dan Pokdarwis Desa Nipa  yang begitu teliti dan cermat  mengatur parkiran motor pengunjung.


"Hal seperti ini sangat diperlukan diarea spot pariwisata. Keamanan dan kenyamanan. Kami menemukannya di Oi Fanda," terangnya


Sementara itu, Randi Pemuda di Oi Fanda mengaku sejak 3 bulan terakhir ini sudah banyak pengunjung.


"Kita sering publikasi di Dunia Maya. Makanya ada peningkatan pengunjung di Oi Fanda" akunya


Saking banyaknya, pemuda ini menyiapkan perlengkapan perkemahan sebanyak 10 unit.

Allir Coffe merupakan salah satu wadah usaha yang dirintis pemuda di Desa Nipa yang stand by 1 X 24 jam di Oi Fanda


"Ada 7 warung kecil-kecilan disini yang jualan kopi dan kebutuhan pengunjung," terangnya


Pendapatan Pelaku Usaha di Oi Fanda lumayan besar. Tiap hari bisa mendapatkan dari Rp. 400 hingga Rp. 2 jutaan. 


"Apalagi hari libur atau sabtu Minggu. Kita kewalahan menjamu pengunjung," ujarnya


Namun dibalik keistimewaan Oi Fanda, menurut Randi masih ada beberapa kendala yang dialami para pengelola dari Pokmas, Pokdarwis dan Karang Taruna. Diantaranya, akses jalan sekitar satu kilo belum diaspal, jaringan listrik belum masuk ke area vital Oi Fanda dan minimnya perhatian dari pemerintah desa setempat.


"Terutama pengunjung masih kurang sadar membuang sampah disembarang tempat," imbuhnya


Pemuda berbadan tambun ini berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membantu mengakses perbaikan jalan, jaringan listrik dan membantu modal untuk Pelaku usaha di Oi Fanda.


"Ini Asset yang harus kita rawat. Perlu ada sentuhan pemerintah juga selain dari kerja mandiri pemuda," pungkasnya


Pena Bumi


Tidak ada komentar:
Write komentar