Minggu, 03 Januari 2021

Destinasi Wisata Sejarah Benteng Asakota Yang Terabaikan

 



Penulis : Ketua KNPI Soromandi, Syuryadin, S.Pd.I (Pena Bumi) 


Bima, Inside Pos,-


Di Daerah Bima-NTB, baik diwilayah Kabupaten maupun Kota, nama Benteng Asakota cukup familiar.  Situs ini memiliki nilai sejarah yang patut dibanggakan oleh kita,  Dou Mbozo. Meski masih terlihat semrawut alias tidak terurus, namun pengunjung dari hari ke hari terus menunjukan peningkatan.


Dalam Peta Geografis, Destinasi ini berada di Desa Punti Dusun Lia Kecamatan Soromandi-Kabupaten Bima.  Menariknya, Benteng Asakota langsung berhadapan dengan lautan lepas. Jika ada ditempat ini,  anda pasti disajikan dengan tjontonan gratis aktivitas nelayan yang sedang menangkap ikan. Atau aktivitas keluar masuk kapal penumpang dan kapal barang. 


Benteng Asakota juga memiliki daya tarik bagi siapapun berkunjung. Terutama bagi wisatawan yang hobi melakukan snorkeling.  Nuansa Alam dibawah dasar laut,  terdapat beberapa jenis terumbu karang yang akan memanjakan mata. Kita juga dapat melihat aneka jenis ikan hias yang mencari sumber makanan disela-sela batu karang.  Disini, kita tidak hanya menjejaki sejarah masa lampau tapi juga menikmati panorama indah dunia bawah laut. Paket komplit. 


Dalam literatur Wikipedia, Benteng Asakota merupakan bekas Benteng pertahanan Belanda untuk Bima. Ditemukan sekitar tahun 1908 (bersamaan dengan meletusnya Gunung Tambora). Benteng Asa Kota ini terdiri dari batu bersusun yang dulu diambil dari berbagai tempat di daerah Bima. 


Barang peninggalan sejarah yang masih tersisa adalah Meriam Kuno yang disebut La Nggali Nggoma. La Nggali artinya Mahal, dan Nggoma artinya Kudis. Meriam ini merupakan meriam induk yang dipasang di sebelah Barat yang menghadap utara yaitu mengarah ke Asa Kota atau Pintu Masuk Kota di teluk Bima. Selain meriam kuno, disini kita juga bisa melihat bekas benteng pertahanan berupa susunan batu-batu yang terlihat sepanjang tebing pantai. 


Di Asakota juga menyimpan cerita-cerita misteri. Kental dengan nuansa magic  yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Dahulu sosok Ompu Daga alias Ompu Nggambi (Ompu, seorang kakek,red) adalah penguasa wilayah Benteng Asakota.  Ompu ini dipercaya warga setempat masih hidup dan akan muncul pada momen tertentu. Kepercayaan lainnya,  batu-batu yang tersusun rapi sebagai benteng itu dikerjakan seorang diri oleh Ompu dengan menggunakan kekuatan supranatural. 


Benteng ini dibangun pada sekitar tahun 1667 di sebuah pulau kecil Nisa Soma, tepat di pintu masuk teluk Bima yang diberi nama Benteng Asa Kota. Asa dalam bahasa Bima berarti mulut dan Kota berarti kota. Jadi Asa kota adalah mulut Kota yang menjadi penghubung Bima dengan negeri-negeri lainnya. Menakjubkan!


Sekilas tentang Benteng Asakota dapat kita simpulkan bahwa tempat itu memiliki nilai historis yang tidak kalah menarik dengan destinasi didaerah lain. Tidak heran banyak pengunjung akhir-akhir ini datang berkunjung. Apalagi dihari libur. Pengunjung Tidak hanya mengisi hari libur mereka bersama keluarga, ditempat ini juga beberapa kali diselenggarakan kegiatan reuni, diskusi pemuda dll. Termasuk pada momentum 17 Agustus 2020, Komunitas Wisata Benteng Asakota serta elemen lainnya membuat kegiatan festival budaya. Terdapat 100 tenda peserta mengelilingi area vital Benteng Asakota. 


Dikesempatan itu juga, dirangkaikan dengan pengibaran bendera merah putih dibawah dasar laut. Decak kagum peserta  menyaksikan meriam La Nggali Nggoma diangkat kembali ke posisi semula. Padahal sebelumnya pernah diupayakan oleh ratusan warga setempat  untuk angkat meriam itu ke posisi semula tapi gagal. Hebat bukan? 


Seperti apa wajah situs bersejarah Benteng Asakota saat ini? Jika orang belum pernah kesana, jelas muncul dalam benaknya, situs ini merupakan destinasi pariwisata andalan di Bima. Terlintas juga, disitus itu dikelola dan ditata oleh SDM yang memadai. Ada infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah untuk menarik minat wisatawan. Jawaban, NIHIL. 


Perlu diketahui, akses jalan menuju benteng asakota masih menggunakan lahan pekarangan rumah warga. Untuk sampai kesana sangat sulit dilalui kendaraan roda dua, lebih-lebih pada musim hujan. Bahkan jalan kaki saja, kita harus super hati-hati. Kalau tidak, siap-siap saja tergelincir dan tersandung oleh bebatuan. 


Keadaan ini jelas membuat kita prihatin. Situs sejarah yang memiliki magnet tersendiri ini tidak diperhatikan secara serius oleh Pemerintah. Baik tingkat Desa, Daerah maupun Pemerintah Propinsi NTB.   Penulis yakin, pengunjung diluar Soromandi yang berkunjung di Asakota karena terlanjur jatuh cinta dengan cerita dan nilai sejarah yang didengar dan dibacanya selama ini. Namanya juga orang jatuh cinta, tidak memandang rupa dan materi. Ironi. 


Tidak habis soal jalan saja, area Benteng Asakota hingga saat ini belum sama sekali memiliki pagar. Hewan ternak bebas keluar masuk kesana. Kotoran hewan dan sisa sampah menjadi pemandangan menjijikkan bagi pengunjung. Diakui warga setempat, Beberapa kali meminta atensi pemerintah daerah untuk perhatikan kondisi tersebut, hasilnya tetap nihil. 


Potensi Benteng Asakota yang menakjubkan ini ternyata tidak mampu membuka mata hati kita semua. Lebih-lebih pihak yang dianggap memiliki kewenangan dan tanggungjawab dalam memajukan dunia pariwisata. Mulai dari tingkat Kepala Desa, Camat, Bupati dan Gubernur belum tergerak hatinya untuk memoles wajah benteng Asakota agar makin menarik. Padahal dunia pariwisata merupakan salah satu pemasukan  pendapatan terbesar di  Negara. Dimana ada destinasi wisata disitu ada geliat ekonomi yang menguntungkan warga dan daerah. 


Hal penting lainnya, Penulis juga mengkritik sikah acuh Pemerintah Kabupaten Bima terkait lahan seluas 1.7 hektar Benteng Asakota sudah di sertifikat oleh dua oknum warga Kota Bima. Isu ini sudah lama digelindingkan oleh pemuda dan masyarakat setempat agar pemerintah segera mencabut hak kepemilikan lahan tersebut. Tapi hingga saat ini belum jelas ujung pangkalnya. Bahkan, Tahun 2020  kemarin terdengar kabar  Bupati Bima membentuk tim yang melibatkan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Dikpora bidang Kebudayaan dan beberapa instansi lainnya. 


Tim ini dibentuk untuk menelusuri kronologi terbitnya sertifikat atas nama pribadi warga dilahan bersejarah.  Hingga hari ini, kerja tim yang dibentuk itu tak pernah dipublis atau disosialisasikan. Dari sini saja, Pemkab Bima dibawah kendali Indah Damayanti Putri, SE dinilai tidak punya kemampuan untuk menyelesaikan persoalan yang timpang ini. Pada akhirnya nanti, masyarakat dan pemuda desa setempat akan dihadapkan dengan pemilik lahan. Bahkan berpotensi ada gerekan horizontal antara warga dan pemilik sertifikat. Pemerintah-pun cuci tangan saja kalau hal buruk ini terjadi. Memalukan! 


Prihatin dengan kondisi Wisata sejarah ini, awal tahun 2020,  dibenteng asakota telah terbentuk sekelompok pemuda dusun setempat yang mengelola dan merawat. Puluhan Pemuda hebat ini memotivasi diri mereka untuk menjaga lahan ini dari ambisi personal oknum yang hendak ambil alih aset daerah. Bagi Pemuda yang menamakan diri Komunitas Wisata Benteng Asakota ini, Lebih baik bermandikan darah dari pada melepaskan Benteng Asakota.  Aktivitas komunitas ini disibukkan untuk menemani wisatawan. Termasuk menjamin keamanan kendaraan pengunjung. Ketika ada kelompok organisasi manapun yang mengadakan acara bermalam/kemah, mereka menjaga sepenuhnya demi kenyamanan pengunjung. Mereka saat ini sedang membangun sekretariat dari dana kumpulan secara sukarela anggota komunitas. Penulis mengapresiasi  semangat pemuda desa ini. Jarang sekali ada yang memiliki kemauan keras seperti mereka. Semoga tetesan keringat mereka ini mendapatkan secercah harapan dikemudian hari. Amin...


---------------Sekian---------







Tidak ada komentar: