Jumat, 28 Agustus 2020

Sungguh Kasihan, Idap Penyakit Komplikasi Maag Kronis, Pria 50 Tahun di Bolo Berkali-kali Masuk RS


Bima, InsidePos,-

Ahamid H. Abakar (50) warga di Desa Kananga Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, menderita komplikasi penyakit mag kronis. Saat ini, Ahamid mengalami gangguan pada lambung yang terjadi secara berulang.

"Selain itu, Nyeri perut pada bagian atas dan gangguan pencernaan akibat peradangan dinding lambung yang muncul secara perlahan, masih terjadi," kata Ramlan, Istrinya saat ditemui dikediamannya Desa Kananga RT/RW.03/01.

Dijelaskan Ramlan, Ahamid pertama kali mengalami gejala penyakit tersebut pada November 2018 lalu. Saat itu Ahamid mengalami nyeri perut pada bagian atas. Rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan dan perut terasa kembung.

"Saat makan suami saya mual-mual dan muntah. Makin lama nafsu makan berkurang hingga menyebabkan berat badannya menurun," jelas Ramlan.

Lanjut dia, melihat penyakit yang diderita suaminya makin memburuk, dirinya bersama keluarga membawa Ahamid ke RSUD Kota Bima untuk dilakukan pemeriksaan. Setelah diperiksa, Ahamid divonis positif maag kronis dan infeksi pada  lambung serta bagian usus. 

"Setelah divonis, saat itu suami saya dirawat inap selama 10 hari di RSUD Kota Bima," ungkapnya.

Selama rawat inap di RSUD Bima dinilai tidak ada perubahan. Ahamid dan keluarga memilih untuk berobat seadanya dikediamannya di Desa Kananga. Saat itu kata Ramlan, nyeri perut pada suaminya sering bermunculan.

"Melihat kondisi itu, lagi-lagi kami keluarga membawanya ke dokter di wilayah Kabupaten Dompu untuk dilakukan pengobatan dan perawatan. Namun, saat itu kata dokter setempat Ahamid tidak mampu dirawat. Karena infeksi maag kronis kian parah," bebernya.

Akhirnya dokter memberikan rekomendasi untuk rujuk ke RSUP Mataram. Sepulang dari mataram kata dia, penyakit yang sama bermunculan. Yakni nyeri perut pada bagian atas dan gangguan pada pencernaan. 

"Bahkan lebih parah dari sebelumnya," keluhnya.

Saat ini Ahamid perlu pengobatan yang intens. Pihak keluarga rencana berobat di Rumah sakit umum Daerah Bali Denpasar (RSUD Sanglah). Kendalanya, keluarga terbentur biaya. Terutama pembiayaan transportasi dan pengobatan. 

"Untuk sementara kami tahan dulu pengobatannya, kami belum ada biaya.
Besar harapan kami keluarga ada perhatian dari pemerintah setempat," harapnya.

#tot

Tidak ada komentar:
Write komentar